GPIB GETSEMANI BALIKPAPAN
Dilembagakan 28 Januari 2007, oleh Pdt. J.D. SIHITE, MA (Ketua 1 Majelis Sinode)

Menjadi Jemaat yang ke 275. Sesuai SK. MS. 0801/I-07/MS.XVIII/Kpts.
Alamat : Jl. Soekarno – Hatta, Balikpapan. Tlp. 082154143101. Norek. BNI Taplus. 0196346488 / Norek. Panitia, Mandiri. 1490007212154. Email : gpibgetsemanibpn@yahoo.co.id
IBADAH MINGGU : PAGI. Pkl.09.00 - SELESAI

Link : MAJELIS SINODE GPIB / Link : KMJ MUPEL GPIB
"MOHON DUKUNGAN DOA UNTUK PEMBANGUNAN KEMBALI GEDUNG GEREJA GPIB GETSEMANI".
KUNJUNGI LINK KEGIATAN JEMAAT


02 November 2017

AKU HANYA MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMAKU

                                          AKU HANYA MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMAKU
                                 Upaya Memposisikan Diri Sebagai Seorang Imam dan Orang Lewi
                      Dalam Perumpamaan Orang Samaria Yang Baik Hati Yang Diceritakan Yesus
                                                             Menurut Injil Lukas 10:25-37

                                                                    Pdt. I Nyoman Djepun

P E N D A H U L U A N
Membaca perumpamaan Tuhan Yesus pada injil Lukas 10:25-37 tentang “Orang Samaria Yang Baik Hati”, umumnya banyak orang menganggap bahwa tindakan seorang Imam dan orang Lewi yang hanya meninggalkan orang yang hampir mati itu, merupakan tindakan tidak terpuji, tidak berperi-kemanusiaan; dan bahkan dianggap tidak seharusnya dilakukan oleh seorang agamawan. Alasan utama pendapat ini adalah karena imam dan orang lewi tersebut tidak memberikan pertolongan, sebagai orang-orang yang memperoleh kesempatan pertama untuk menolong. Di sisi lain, tindakan “orang Samaria yang baik hati ini” justru kontras dengan sikap para rohaniawan tersebut.
 

Uraian berikut ini mencoba untuk melihat kisah perumpamaan ini dengan “sudut pandang yang baru” dengan cara menempatkan diri sebagai imam dan orang Lewi dalam cerita tersebut. Dengan menempatkan diri sebagai mereka, kiranya dapat diketahui alasan dan latar belakang dari tindakan keduanya yang seakan memberi kesan gagal menjadi sesama manusia bagi seorang korban perampokan di jalan Yerusalem ke Yerikho.  

JALAN PENGHUBUNG KOTA YERUSALEM KE YERIKHO
Jalan dari Yerusalem menuju ke Yerikho hanya 27 kilometer (17 mil) panjangnya, dan di sekitar jalan ini terbentang jalan yang menurun sekitar 1.000 meter.[1] Wilayah ini sebenarnya tidak berpenduduk, tidak ada tanaman, dan ditandai dengan adanya batu-batu karang kapur dan jurang di kedua sisi jalan. Pada zaman Alkitab, jalan tersebut diberi nama "jalan berdarah," kemungkinan besar karena dianggap tidak aman. Rute ini sering dilewati oleh para peziarah dan para kafilah. Dari waktu ke waktu mereka dirampok oleh bandit-bandit yang bersembunyi di belakang batubatu kapur.[2]
 

Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa jalan yang dilalui oleh orang yang dirampok pada perumpamaan “Orang Samaria Yang Baik Hati” itu merupakan jalan yang rawan, sulit dilalui serta tidak aman bagi para penggunanya. Tidak heran jika perampokan terjadi di situ. Kemungkinan besar kisah yang diangkat oleh Yesus, dalam perumpamaan ini, adalah peristiwa yang pernah terjadi walaupun tokoh-tokoh fiktif menghiasi kisah tersebut.

YERUSALEM DAN YERIKHO
Terdapat dua tempat yang disebutkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini, yakni Yerusalem dan Yerikho. Kedua tempat ini memang berbeda, namun memiliki konektivitas yang dalam dengan kisah ini secara khusus dengan dua tokoh pertama, yakni Iman dan Orang Lewi.
Kota Yerusalem adalah salah satu kota termasyur di dunia yang sudah berdiri sejak milenium 3sM. Kota ini terletak menjulang tinggi di punggung bukit pegunungan Yehuda, dan terletak kr 50km dari Laut Tengah dan kr 30km sebelah barat ujung utara Laut Mati. [3] Di kota inilah bangunan suci orang Israel yakni Bait Allah (biasa disebut Bait Suci)[4] berdiri megah yang menjadi pusat peribadahan dan penyembahan umat kepada Allah.

Kota Yerikho dalam PL biasa dianggap sama dengan bukit Tel es-Sultan yang terletak kr 16km sebelah Baratlaut muara sungai Yordan sekarang di Laut Mati, kr 2km Baratlaut dari desa er-Rikha (kota Yerikho Modern), dan 27km Timurlaut dari kota Yerusalem. Kota ini berbentuk jambu biji dengan ukuran panjang kr 400m utara-selatan dan lebar ujung utaranya kr 200m dengan tinggi kr 20 meter. Berbeda dengan Perjanjian Lama, kota Yerikho menurut Perjanjian Baru, khususnya pada zaman Herodes terletak di bukit Tulul Abu el-‘Alayiq, 2 km sebelah Barat desa er-Rikha modern. Dengan demikian, letak kota Yerikho dalam PB dan dalam kisah ini berada di sebelah selatan kota Yerikho dalam Perjanjian Lama.[5] Kota ini kemudian terkenal memiliki jumlah penduduk yang sangat tinggi. Kota ini juga merupakan tempat tinggal para imam.
 

Mengapakah orang-orang ini berjalan melalui jalur Yerusalem-Yerikho ini? Tampaknya sebagian besar imam dan orang Lewi yang bertugas di Bait Suci tidak tinggal di Yerusalem tetapi ditempat lain[6]. Yerikho merupakan salah satu tempat tersebut. Diduga ada kurang lebih 12 ribu imam dan orang Lewi tinggal disana[7] (jumlah total imam Bait Allah adalah sekitar 7200 orang dengan jumlah orang Lewi yang lebih banyak lagi) [8]. Berdasarkan fakta ini maka adalah wajar jika Imam dan orang Lewi melakukan perjalanan melalui jalur tersebut.

SIAPAKAH IMAM DAN ORANG LEWI ITU?
Imam adalah orang-orang yang bertugas menjalankan ritual keagamaan di Bait Suci. Para imam ini dibagi menjadi 24 kelompok yang setiap kelompok bertugas selama 1 minggu per waktu sebanyak 2 kali dalam satu tahun. Meskipun begitu dalam hari-hari raya besar mereka semua diminta untuk bertugas.[9] Sedangkan Orang Lewi juga merupakan petugas dalam Bait Suci. Tugas mereka ialah bernyanyi dan memainkan musik untuk ibadah-ibadah yang berlangsung, membantu pekerjaan para imam dan menjadi penjaga[10]. Mengingat bahwa kehidupan bangsa Yahudi berpusat kepada Bait Suci maka tentulah orang-orang yang bertugas dan melayani disana memiliki status sosial dan kebanggaan tersendiri.

MENGAPA MEREKA MENGABAIKAN ORANG YANG DIRAMPOK ITU?
Dalam ayat 31-32 dikatakan dalam teks ada seorang imam dan lewi yang melewati daerah tersebut dan menemukan orang yang sedang tergeletak di jalan tersebut yang baru saja di rampok dan dipukuli sampai setengah mati. Namun, imam tersebut hanya melewatinya saja dan tidak menolongnya. Membayangkan situasi yang ”setengah mati” tersebut dengan perspektif melihat dari kejauhan, tentulah imam tersebut tidak bisa membedakan apakah sudah mati atau masih kritis “setengah mati” sebagaimana tertulis dalam ayat 30.
 

Ia tidak menolong kemungkinan disebabkan karena ia teringat akan ketentuan bahwa barangsiapa yang menyentuh orang mati maka ia menjadi najis selam tujuh hari (Bil 19:11). Imam ini ragu-ragu apakah ia masih hidup atau sudah mati, oleh karena itu ia tidak mau menolongnya. Selain ia menjadi najis dan tidak dapat melakukan kegiatan di Bait Allah, maka agar dapat menjadi tahir kembali, seorang imam harus melakukan ritual yang rumit dan juga membutuhkan biaya yang mahal untuk melakukan pentahiran tersebut (Bil 19:1-10). Sehingga kemungkinan dengan alasan tersebut imam ini tidak menolong orang ini dan lebih mementingkan kehidupan pribadinya daripada menolong sesama.[11]
 

Kemudian di ayat 32 juga dikatakan bahwa orang Lewi juga melihat orang yang tergeletak tersebut, namun dia juga tidak menolongnya. Alasan yang sama seperti dengan Imam kemungkinan menjadi penyebabnya. Selain itu, biasanya para bandit mempunyai strategi untuk menarik mangsanya. Bisa saja orang yang sedang terbaring itu adalah salah seorang anggota mereka sendiri yang bertindak sebagai korban. Kalau orang Lewi itu berhenti disitu maka dengan tiba-tiba para perampok juga akan menyergap dia dan merampok harta bendanya. Orang Lewi terkenal dengan semboyan “pertama-tama adalah keamanan diri”, jadi ia tidak mau mengambil resiko dengan menolong orang tersebut.[12] Selain takut jika korban itu adalah stategi yang digunakan oleh perampok, kemungkinan orang Lewi juga takut menjadi najis mengingat ia mempunyai tugas di dalam Bait Allah seperti yang telah dijelaskan di atas.

SALAHKAH AKU JIKA INGIN MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMAKU?
Dari uraian di atas, maka di saat kita menempatkan diri sebagai orang lewi dan imam dalam perumpamaan Yesus mengenaii Orang Samaria Yang Baik Hati tersebut, terdapat beberapa penekanan penting untuk dapat dijadikan alasan mengapa tindakan mereka berdua dapat dianggap “tindakan tak keliru” saat mengabaikan orang yang hampir mati tersebut, yakni:
 

1. Siapakah orang yang sedang “setengah mati” akibat dianiaya oleh para penyamun tersebut? Sepertinya, Yesus tidak fokus pada tokoh yang terkena musibah tersebut. Hal ini terlihat dari tidak diuraikannya oleh Yesus latar belakang korban (status sosial, kebangsaan dll). Alkitab menyebut hanya 1 kepastian yakni ia telah dianiaya dan saat itu sedang sekarat atau hampir mati. Istilah “setengah mati” bisa berarti hampir mati, yakni kondisi yang terlihat seakan ia sudah mati (tak bergerak, penuh luka dan darah). Di mata imam dan orang Lewi orang setengah mati ini seperti sudah mati dan menjadi mayat. Walau ternyata kenyataannya, ia belum mati. Tetapi apakah mereka berdua tahu bahwa sang korban belum mati? Atau mereka hanya tahu bahwa dijalan itu jenasah orangg mati?
 

2. Merujuk pada Imamat 21:1 yang menyebutkan: “TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: Seorang imam janganlah menajiskan diri dengan orang mati di antara orang-orang sebangsanya,”  menunjukkan bahwa tindakan seorang Imam pada perumpamaan tersebut, didasarkan atas ketaatannya pada perintah TUHAN sendiri. Demi menjaga kekudusan dirinya sebagai pelayan di Rumah TUHAN, maka ia memilih menghindari “sesuatu” yang terlihat seperti jenasah tersebut. Dengan kata lain, bahwa ia sendiri terikat pada ketentuan agamanya sendiri, yang melarang dirinya sebagai imam untuk menyetuh orang mati. Menyentuh orang mati membuatnya menjadi najis. Dan dampak dari kenajisan tersebut adalah tertutupnya kesempatan bagi mereka sebagai pekerja Bait Allah untuk melayani Allah.
 

3. Selanjutnya, apabila memperhatikan Taurat dalam kitab bilangan 19:11, kita mendapat penjelasan bahwa lamanya seseorang menjadi najis karena menyentuh mayat adalah 7 (tujuh) hari, maka cukup beralasan bahwa sangat beresiko bagi kedua pelayan Bait Allah itu apabila menolong orang yang “setengah mati” tersebut yang terlihat menurut mereka adalah jenasah orang mati. Adalah sangat mungkin dengan kurun waktu yang lama itu (satu minggu) mereka tidak dapat menjalankan tugas sebagai imam dan sebagai orang lewi dalam penugasan khusus tersebut.
 

Dari 3 (tiga) poin penting ini, maka kita menemukan dalam persepktif kewajiban dan ketentuan agama dan secara khusus sebagai pelaksana kegiatan keagamaan, imam dan orang lewi justru tidak gagal, melainkan karena ketaatan pada kaidah agamanya-lah hal itu mereka lakukan. Pengabaian terhadap orang yang dirampok tersebut tidak dapat disalahkan kepada mereka apabila berada dalam usaha menjalankan kewajiban agama.
ADAKAH YANG TERLEWATKAN (refleksi penutup)
 

Uraian di atas tidak bermaksud membenarkan imam dan orang lewi atas tindakan mereka. Tetapi mencoba berada diposisi mereka dan menemukan perspektif yang benar dari sudut pandang kedua orang tersebut. Tetapi, apakah tindakan mereka benar secara kemanusiaan? Perumpamaan Yesus tidak berkonteks pada kewajiban melaksanakan panggilan keagamaan Yahudi. Perumpamaan Yesus justru berada pada latar pertanyaan: “siapakah sesamaku manusia?” Hal ini berarti, Yesus sedang menjawab bagaimana seharusnya BERSIKAP SEBAGAI SESAMA MANUSIA.
 

Inilah kegagalan orang lewi dan imam tersebut dalam perumpamaan Yesus. Benar bahwa mereka menjalankan kewajiban agama dengan baik, tetapi mereka gagal berprilaku sebagai sesama manusia bagi orang yang hampir mati itu. Yesus tidak bicara soal kewajiban aturan keagamaan, tapi Yesus mengoreksi kegagalan prilaku kemanusiaan seorang yang beragama dan pengajar keagamaan yakni si penanya yang adalah ahli Taurat. Mengasih Allah dengan menjalankan kewajiban agama secara liturgis adalah baik. Tetapi lebih mulia dan lebih berkualitas hidup keagamaannya apabila ia mengasihi Allah dengan cara mengasihi sesamanya manusia sebagai ciptaan Allah.  

VISI & MISI GPIB

VISI
GPIB menjadi gereja yang mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaanNya

MISI
Menjadi Gereja yang terus menerus diperbaharui dengan bertolak dari Firman Allah, yang terwujud dalam perilaku kehidupan warga gereja, baik dalam persekutuan, maupun dalam hidup bermasyarakat.
Menjadi gereja yang hadir sebagai contoh kehidupan, yang terwujud melalui inisiatif dan partisipasi dalam kesetiakawanan sosial serta kerukunan dalam masyarakat, dengan berbasis pada perilaku kehidupan keluarga yang kuat dan sejahtera.
Menjadi Gereja yang membangun keutuhan ciptaan yang terwujud melalui perhatian terhadap lingkungan hidup, semangat keesaan dan semangat persatuan dan kesatuan warga Gereja sebagai warga masyarakat.

MOTTO :
Dan orang akan datang dari timur dan barat dan dari utara dan selatan dan mereka duduk makan di dalam Kerajaan Allah


DARI ADMIN

"TAK ADA GADING YANG TAK RETAK"
Jika dalam penyajian blog GPIB Getsemani ini terdapat kekurangan atau kurang sesuai dengan harapan, kami sebagai pengelola blog memohon maaf.

Blog ini disajikan semata-mata untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan di kalangan kita-kita, kendati belum sempurna dan belum semua terakomodir itu dikarenakan keterbatasan kami

Untuk keperluan updating, Artikel/Foto/Video yang ada di blog GPIB Getsemani selain data dari admin sendiri, sebagian juga kami sadur/copy/download dari berbagai sumber di medsos.


Ucapan Terimakasih kami sampaikan kepada yang Artikel/Foto/Video nya telah kami unggah di blog ini, dan terimaksih juga kami sampaikan kepada pengunjung blog semoga blog ini bermanfaat bagi kita.

Terimakasih. #ek