GPIB GETSEMANI BALIKPAPAN
Dilembagakan 28 Januari 2007, oleh Pdt. J.D. SIHITE, MA (Ketua 1 Majelis Sinode)
Menjadi Jemaat yang ke 275. Sesuai SK. MS. 0801/I-07/MS.XVIII/Kpts. Alamat : Jl. Soekarno – Hatta, Balikpapan. Tlp/Fax. (0542) 860667 Norek. BNI Taplus. 0196346488. Email : gpibgetsemani@yahoo.co.id

"MOHON DUKUNGAN DOA ATAS RENCANA PEMBANGUNAN KEMBALI GEDUNG GEREJA GPIB GETSEMANI".

21 Maret 2015

Retreat Pelkat GPIB Getsemani Balikpapan

Ibadah Padang Pelkat Persekutuan Teruna GPIB Getsemani & Seminar "Memahami Perkembangan Remaja" bersama Psikolog Ibu Shinta Pasila 

Tanggal : 21 Maret 2015
Lokasi : Lamaru Beach
PF : Fanky N (Ketua II - PHMJ)

























 

27 Februari 2015

"AKU SUDAH INGIN MENYERAH SAJA"


Pasangan itu memutuskan bertamasya ke Inggris untuk merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-25. Keduanya menyukai barang antik, khususnya cangkir. Dan begitulah, mereka memasuki toko demi toko untuk menambah koleksi cangkir antik mereka. Dan, ada sebuah cangkir yang sangat menarik perhatian sang nyonya. Cangkir yang sangat cantik.

“Engkau pasti tak tahu” tiba tiba cangkir di tangannya itu berbisik. “Dulunya aku sama sekali bukan cangkir …”
Agak terkejut dan gugup dia, tapi si nyonya diam saja, ingin mendengar apa yang akan dikatakan cangkir itu lebih lanjut.

“Dulunya warnaku merah. Merahnya tanah liat. Lalu Dia yang empunya aku mengambilku, menggulungku, menepuk-nepuk dan memukulku berulang-ulang sampai aku berteriak, ‘Lepaskan aku, lepaskan aku,’ tetapi Dia hanya tersenyum dan berkata: ‘Tahankan dulu, tahankan dulu, belum waktunya; engkau akan berguna pastinya.”

“Lalu Dia memindahkan aku ke sebuah meja putar. Dengan kakinya tiba tiba dia memutar meja itu dengan amat kencang, terus, terus dan terus sampai aku merasa pusing. ‘Hentikan, hentikan, hentikan!’ aku berteriak, tapi Dia hanya memandangiku dan berkata: ‘Tahankan dulu, tahankan dulu, belum waktunya; engkau akan berguna pastinya.”

“Akhirnya terbuka juga pintu oven yang panas itu. Aku diletakkannya pada sebuah rak. Aku mulai merasa nyaman dan dingin. Tapi baru saja merasakan ademnya udara, aku diangkatnya, Dia menyikatku dengan keras, lalu dicatnya dan dilukisnya seluruh tubuhku. Bau cat itu sungguh tak enak. Aku seakan tercekik. ‘Hentikan!’ teriakku. Kali ini aku menangis. Tapi dia masih dengan tenangnya memandangiku dan berkata: ‘Tahankan dulu, tahankan dulu, belum waktunya; engkau akan berguna pastinya.”

“Dia lalu mengangkatku lagi. Kukira dia sudah selesai, tapi ternyata belum. Malahan kini dia memasukkan aku ke dalam oven yang lain dan, ya ampun, kali ini bahkan dua kali lebih panas dari oven sebelumnya. Dalam hati aku sudah ingin menyerah saja dan melupakan semuanya: selamat tinggal dunia!

Tetapi mengingat tujuan Nya yang ingin membuat aku menjadi barang yang berguna, aku pasrah saja dan bertahan terus. Kupikir, adalah indah kalau hidupku menjadi berkat bagi sesama, menjadi anugrah bagi dunia. Pikiran itu membuatku bertambah kuat.

Tiba-tiba pintu oven dibuka. Dia mengangkatku dan meletakkan aku di rak yang bersih. Lalu Dia mengambil cermin dan berkata, ‘Sekarang lihatlah dirimu.’ Di kaca aku melihat sesuatu yang indah. ‘Ah, itu pasti bukan aku. Tak mungkin itu aku. Betapa indahnya. Akukah itu. Aku jadi cantik sekali sekarang.”

“Lalu Dia menimang-nimang aku sekali lagi dan berkata, ‘Ingatlah. Aku tahu bagaimana sakitnya digulung, dipukul, dibakar, digosok dan ditempa, tetapi Aku tak pernah meninggalkanmu hingga engkau menjadi yang sebaik-baiknya akhirnya. Kini engkau telah menjadi dirimu yang ada di pikiran Ku sejak Aku mulai membentukmu dahulu.” 

Disalin dari buku "Teologi kerja modern & Etos kerja Kristiani" # JansenSinamo