GPIB GETSEMANI BALIKPAPAN
Dilembagakan 28 Januari 2007, oleh Pdt. J.D. SIHITE, MA (Ketua 1 Majelis Sinode)
Menjadi Jemaat yang ke 275. Sesuai SK. MS. 0801/I-07/MS.XVIII/Kpts. Alamat : Jl. Soekarno – Hatta, Balikpapan. Tlp/Fax. (0542) 860667 Norek. BNI Taplus. 0196346488 / Norek. Panitia, Mandiri. 1490007212154. Email : gpibgetsemani@yahoo.co.id / getsemani.balikpapan@gpib.or.id

"MOHON DUKUNGAN DOA ATAS RENCANA PEMBANGUNAN KEMBALI GEDUNG GEREJA GPIB GETSEMANI".

Tim Penyelesaian Pembangunan

Tim Penyelesaian Pembangunan
Daud Hendrawan
James Zeke
Yahya Fanjie
Edi Karyoto
Samianto


08 Juli 2014

PPMJ No. 1, tentang "Jemaat"

PERATURAN PELAKSANAAN MAJELIS JEMAAT NOMOR   1
GPIB JEMAAT   “GETSEMANI” BALIKPAPAN
Tentang

JEMAAT

Pasal  1
Pengertian

1.1   Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat  “GETSEMANI” Balikpapan selanjutnya disebut GPIB Jemaat  “GETSEMANI”, adalah wujud dari Gereja Kristus Yesus Yang Esa, Kudus, Am dan Rasuli.
1.2   GPIB Jemaat “GETSEMANI” persekutuan warga GPIB yang tinggal di wilayah Kecamatan Balikpapan Barat, Kecamatan Balikpapan Utara Kota Balikpapan dan Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kertanegara  dan sekitarnya yang diwujudkan dalam kehidupan persekutuan, pelayanan dan kesaksian yang tertib, teratur dan dinamis.
  
Pasal   2
Wilayah Pelayanan

1.        Wilayah Pelayanan
Wilayah Pelayanan GPIB Jemaat “GETSEMANI” meliputi Kecamatan Balikpapan Barat, Kecamatan Balikpapan Utara, Kecamatan Balikpapan Kota dan Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kertanegara dan sekitarnya.

2.        Batas Wilayah Pelayanan
Batas wilayah pelayanan GPIB Jemaat  GETSEMANI  ditetapkan dengan  Surat Keputusan Majelis Sinode GPIB Nomor 0801/I-07/MS.XVIII/Kpts tanggal 28 Januari 2007 sebagai berikut :
Sebelah Utara     : berbatasan dengan KM 33 wilayah terbuka
Sebelah Timur     : berbatasan dengan wilayah pelayanan GPIB Jemaat Bukit Sion
Sebelah Selatan : berbatasan dengan wilayah pelayanan GPIB Jemaat Maranatha
Sebelah Barat      : berbatasan dengan pantai (Pelabuhan Feri Kariangau)

3.      Sektor Pelayanan
         a.      Wilayah pelayanan GPIB Jemaat GETSEMANI” dibagi dalam beberapa sektor pelayanan.
         b.      Jumlah , nama – nama, dan  batas-batas sektor pelayanan, ditetapkan dalam Sidang Majelis Jemaat.

Pasal   3
Warga  Jemaat

1.        Pengertian
1.1.        Warga Jemaat ialah mereka yang bertempat tinggal di dalam wilayah pelayanan GPIB Jemaat  “GETSEMANI dan tercatat dalam Daftar Warga Jemaat, yaitu :
1.1.1.       Mereka yang lahir dari Keluarga yang terdaftar sebagai warga GPIB Jemaat “GETSEMANI”.
1.1.2.       Mereka yang dibaptis di GPIB Jemaat “GETSEMANI
1.1.3.       Mereka yang telah mengaku iman dan telah diteguhkan menjadi warga sidi GPIB Jemaat “GETSEMANI
1.1.4.       Warga sidi dari Gereja Anggota GPI (Gereja Protestan di Indonesia) yang pindah dan berdomisili di wilayah pelayanan GPIB Jemaat “GETSEMANI
1.1.5.       Mereka yang dibaptis di Gereja lain akan tetapi atas kehendak sendiri atau jika belum dewasa, atas persetujuan orangtua atau wali menyatakan diri menjadi warga GPIB Jemaat “GETSEMANI
1.1.6.       Warga sidi Gereja lain di Indonesia yang tergabung dalam Persekutuan Gereja–Gereja di Indonesia (PGI) atau Gereja – Gereja di luar Indonesia, yang menyatakan diri menjadi warga GPIB Jemaat “GETSEMANI”dan bersedia mentaati ketentuan-ketentuan yang berlaku di GPIB.
1.1.7.       Mereka yang belum dibaptis tetapi sedang mengikuti proses katekisasi di GPIB Jemaat “GETSEMANI
1.1.8.       Mereka yang belum dibaptis tetapi mengikuti pelayanan anak dan persekutuan teruna di lingkungan GPIB Jemaat ”GETSEMANI” atas persetujuan orang tua atau wali.

2.      Hak dan Kewajiban
         2.1       Warga jemaat  berhak mendapatkan pelayanan dari GPIB Jemaat GETSEMANI
         2.2       Warga sidi  berhak :
                      2.2.1      Turut serta memikirkan dan memberi saran serta arah pembangunan jemaat melalui Pertemuan Warga Sidi.
                      2.2.2      Memilih dan dipilih menjadi Diaken dan Penatua sesuai dengan persyaratan yang diatur dalam Tata Gereja GPIB Tahun 2010  Peraturan Nomor   Pasal  3.
                      2.2.3      Memilih dan dipilih menjadi Pengurus Unit-Unit Misioner.
                      2.2.4      Memilih dan dipilih menjadi  Fungsionaris Badan Pemeriksa Perbendaharaan Jemaat (BPPJ).
2.3        Warga jemaat  berkewajiban :
                 2.3.1      Mendukung pelayanan dan kesaksian serta aktif berperan dalam panggilan dan pengutusan Gereja termasuk memenuhi segala kewajiban yang telah ditetapkan.
                 2.3.2      Mentaati Tata Gereja GPIB dan semua Ketetapan Persidangan Sinode GPIB yang berlaku.

3.      Tanggung Jawab                  
Seluruh wargjemaat bertanggung jawab melaksanakan panggilan dan pengutusan Gereja serta pembangunan jemaat.
  
Pasal   4
Pimpinan  Jemaat

1.         Majelis Jemaat adalah Pimpinan GPIB Jemaat  “GETSEMANI
2.         Majelis Jemaat terdiri atas :
a.         Pendeta yang ditugaskan oleh Majelis Sinode di Jemaat.
b.         Diaken dan Penatua yang dipilih oleh warga sidi berdasarkan Peraturan Pemilihan Diaken dan Penatua yang berlaku.
3.         Majelis Jemaat sebagai Pimpinan Jemaat membentuk, mengangkat dan menetapkan Unit-Unit Misioner dengan berpedoman pada Tata Gereja GPIB yang berlaku.

Pasal  5
Pelaksanaan Panggilan Dan Pengutusan

1.    GPIB Jemaat “GETSEMANI” melaksanakan Panggilan dan Pengutusan Gereja melalui  Persekutuan,Pelayanan, dan Kesaksian.
2.    Persekutuan sebagaimana dimaksud pada butir 1 pasal ini adalah wadah dan aktifitas gerejawi yang berpusat pada Yesus Kristus dan dipimpin oleh Roh Kudus dan terwujud dalam bentuk peribadahan sebagai berikut :
2.1. Ibadah Umum
2.1.1.        Ibadah Hari Minggu
2.1.2.        Ibadah Hari Minggu Pelayanan Kategorial Pelayanan Anak
2.1.3.        Ibadah Hari Min ggu pelayanan Kategorial Persekutuan Teruna
2.1.4.        Ibadah Hari Raya Gerejawi
2.2.  Ibadah Khusus
2.2.1.        Ibadah Peneguhan
2.2.2.        Ibadah Pelayanan Kategorial
2.2.3.        Ibadah Pemakaman, Pemakaman Kembali, Kremasi. 
2.2.4.        Ibadah Peneguhan dan Pemberkatan Perkawinan
2.2.5.        Ibadah Keluarga
2.2.6.        Ibadah Hari raya Nasional
2.2.7.        Ibadah lain sesuai kebutuhan.
2.3. Tata Ibadah yang dipakai ditetapkan oleh Persidangan Sinode GPIB. Para Pelayan yang
memimpin Ibadah ditentukan oleh Majelis Jemaat di bawah koordinasi Ketua Majelis Jemaat. 
2.4. Bentuk dan cara persekutuan lainnya, dapat dilakukan secara teratur dan tertib serta
dipimpin oleh pelayan yang ditetapkan oleh Majelis Jemaat GPIB Jemaat GETSEMANI”.
2.5. Dalam mengadakan persekutuan yang bersifat oikumenis, dapat bekerjasama dengan
Gereja-gereja dan Badan-badan atau Organisasi kristen lain yang mempunyai hubungan
 kelembagaan dengan GPIB dan melaporkannya pada Majelis Sinode.
2.6. Hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan sakramen dan peneguhan-peneguhan (Peneguhan
SidiPeneguhan dan Pemberkatan Perkawinan, Peneguhan yang lain)  diatur dalam petunjuk
 teknis yang ditetapkan dalam Sidang Majelis Jemaat.

3.    Pelayanan dan Kesaksian
3.1. Pelayanan dan Kesaksian pada hakekatnya merupakan salah satu bentuk perwujudan panggilan Gereja untuk menyatakan kasih Yesus Kristus melalui perbuatan atau tindakan nyata.
3.2. Tujuan Pelayanan dan Kesaksian adalah memberikan pengertian dan pemahaman tentang iman kristen kepada warga jemaat dan warga masyarakat dengan mengembangkan kemampuan dan potensinya sehingga menjadi warga jemaat yang mandiri.
3.3. Pelayanan dan Kesaksian dilaksanakan dalam bentuk kegiatan-kegiatan berikut :
3.3.1.   Pelayanan Kesehatan bagi wargajemaat dan warga masyarakat.
3.3.2.   Pelayanan Diakonia kepada warga jemaat yang layak dibantu.
3.3.3.   Pembinaan dan penyantunan anak yatim piatu, anak terlantar, janda/duda, orang tua lanjut usia, dan Panti Asuhan.
3.3.4.   Pemberian bantuan bagi warga jemaat dan warga masyarakat yang mengalami musibah (bencana alam, kebakaran, kerusuhan, peperangan).
3.3.5.   Kerja sama dan mendukung kegiatan-kegiatan yang diprogramkan dan dilaksanakan oleh Musyawarah Kerjasama Antar Gereja (MKAG) di wilayah sekitar.
3.4. Pelayanan dan Kesaksian dapat juga dilaksanakan dalam bentuk proyek-proyek dan lebih
difokuskan kepada :
3.4.1.   Pengembangan usaha pertanian dan peternakan bagi masyarakat pedesaan.
3.4.2.   Pengembangan usaha sektor informal bagi warga yang belum mampu memiliki pekerjaan tetap.
3.4.3.   Pengembangan  usaha kemanusiaan, para tuna wisma dan tuna karya.
3.4.4.   Usaha/upaya pemberdayaan masyarakat di kota dan di desa.
3.5. Pola Pelayanan dan Kesaksian dilakukan dalam bentuk kerjasama dengan gereja-gereja
Anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
                (PGI) untuk melakukan pemberitaan Injil dengan sepengetahuan dan persetujuan Majelis Sinode GPIB.
3.6. Pola pengelolaan pelayanan dan kesaksian dilakukan secara terpadu, baik di lingkup Mupel
                Jemaat – Jemaat Kaltim I maupun Jemaat Pendukung dan dapat bekerja sama dengan gereja/lembaga lain dengan sepengetahuan dan persetujuan Majelis Sinode GPIB

Pasal  6
Pembinaan

1.    Prinsip Pembinaan
1.1.   Pembinaan dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya insani Presbiter dan  Warga jemaat  dalam rangka melaksanakan Panggilan dan Pengutusan Gereja.
1.2.   Pembinaan  dimaksudkan  untuk menumbuh-kembangkan kedewasaan iman para Presbiter dan Warga  jemaat dalam menghadapi pergumulannya sebagai warga gereja, warga masyarakat, dan warga negara.
1.3.   Pembinaan  bertujuan  untuk memberikan kepada Presbiter dan Warga jemaat pengetahuan, pengertian, pemahaman, dan untuk secara kritis mampu melakukan analisis dan penilaian terhadap pergumulan gereja, masyarakat, bangsa,  dan negara sehingga dapat melaksanakan Panggilan dan Pengutusannya sebagai warga Gereja.
2.    Bentuk Pembinaan
      2.1   Pembinaan warga jemaat dilakukan melalui:
                2.1.1. Katekisasi Sidi
                2.1.2. Pelayanan Kategorial dan Kelompok Fungsional dan Profesional.
                2.1.3. Pastoral (Konseling dan Perkawinan)
                2.1.4. Pembinaan lainnya yang dibutuhkan (Pembinaan PresbiterPembinaan Warga Jemaat
                            Dan Pembinaan Pengurus Pelyanan Kategorial,  dan Pengurus Komisi)
      2.2   Pembinaan warga jemaat adalah tanggung jawab Majelis Jemaat berdasarkan petunjuk, pengarahan dan bimbingan Majelis Sinode.
      2.3.  Pembinaan warga jemaat dilaksanakan oleh Majelis Jemaat.
3.    Pelaksanaan Pembinaan
      3.1   Pembinaan bagi PresbiterPengurus Pelayanan Kategorial, Pengurus Komisi dan warga jemaat.
      3.2.  Mengadakan Ibadah Penyegaran Imansekurang-kurangnya sekali dalam 6 (enam) bulan.
      3.3. Ceramah tentang masalah-masalah yang menyangkut kehidupan iman, pembangunan ekonomi gereja, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya, politik, ekonomi, keamanan dan lain-lain.
      3.4.  Pendidikan non formal sesuai dengan kemampuan dan dana.
      3.5.  Media komunikasi melalui bulletin/warta jemaat atau media cetak kristiani lainnya.
      3.6.  Perpustakaan jemaat.
      3.7.  Pembinaan Katekisasi  Sidi diadakan dengan menggunakan bahan ajar yang ditetapkan oleh Majelis Sinode GPIB selama minimal 11 (sebelas) bulan (01 Mei s/d 31 Maret)
                3.7.1.  Pembina katekisasi sidi adalah Pendeta yang ditugaskan oleh Majelis Sinode di
                             jemaat, Penatua dan atau Diaken yang memiliki Sertifikat Pembina Katekisasi Sidi
                            yang diterbitkan oleh Majelis Sinode  GPIB dan ditetapkan oleh Sidang Majelis Jemaat.
                3.7.2. Pembinaan katekisasi khusus diberikan kepada petobat baru, warga jemaat yang
                            cacat fisikwarga jemaat dewasa yang belum sidi,  orang tua lanjut usia,
                            berkebutuhan khusus denganbahan ajar yang ditetapkan oleh Majelis Sinode.

Pasal  7
Penggembalaan

1.         Prinsip Penggembalaan
Penggembalaan diadakan untuk memelihara persekutuan dan kehidupan beriman yang benar dari warga jemaat  serta menjagaajaran gereja dan kemurnian pemberitaan Firman di jemaat.
2.         Bentuk-bentuk Penggembalaan
         Penggembalaan dapat dilakukan dalam bentuk :
2.1      Percakapan pastoral
2.2      Perkunjungan
2.3      Penggembalaan khusus
3.      Penggembalaan Khusus
         3.1    Penggembalaan khusus bertujuan untuk menegakkan kemuliaan Allah dan memelihara kemurnian pemberitaan Firman. Tentang penggembalaan khusus akan ditetapkan tersendiri.
         3.2. Penggembalaan khusus diadakan dengan maksud membina kehidupan rohani warga jemaat
         dan Pejabat Gereja supaya hidup kudus sesuai yang diajarkan Alkitab.
3.2.  Jika seorang Presbiter atau warga jemaat melakukan pelanggaran atas Firman Allah atau
pemberitaan Firman Allah atau , pengajaran  Gereja atau  peraturan-peraturan GPIB yang
berlaku, maka Majelis Jemaat dapat mengenakan status Penggembalaan Khusus kepada
 yang bersangkutan.
3.3.  Hal-hal yang berkaitan dengan pelaksananaan penggembalaan khusus akan diatur dalam
Petunjuk Teknis yang ditetapkan oleh Sidang Majelis Jemaat.
  
Pasal  8
Alat Kelengkapan Organisasi      

1.      Majelis Jemaat
         Ditetapkan dan diatur dalam Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat (PPMJ) GPIB Jemaat “GETSEMANI” Balikpapan Nomor 2 Tahun  2012 tentang Majelis Jemaat.
2.      Pelaksana Harian Majelis Jemaat.
         Ditetapkan dan diatur dalam  Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat GPIB Jemaat “GETSEMANI” Balikpapan Nomor 3  Tahun 2012 tentang Pelaksana Harian Majelis Jemaat.
3.      Sidang Majelis Jemaat (SMJ), Rapat dan Pertemuan Warga Sidi Jemaat
         Ditetapkan dan diatur dalam  Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat GPIBJemaat “GETSEMANI”  Balikpapan Nomor 4 Tahun 2012 tentang Sidang Majelis Jemaat, Rapat, dan Pertemuan Warga Sidi.
4.      Unit-Unit Misioner.
         Ditetapkan dan diatur dalam  Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat  GPIB Jemaat  “GETSEMANI”Balikpapan Nomor 5 Tahun  2012tentang Unit – Unit Misioner.
5.      Perbendaharaan Jemaat dan Cara Pengelolaannya
         Ditetapkan dan diatur dalam Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat  GPIB Jemaat “GETSEMANI”  Balikpapan Nomor 6 Tahun 2012 tentang Bidang Perbendaharaan Jemaat dan Cara penggelolaannya.
6.      Badan Pemeriksa Perbendaharaan Jemaat
         Ditetapkan dan diatur dalam Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat  GPIB Jemaat“GETSEMANI”  Balikpapan Nomor 7 Tahun 2012 tentang Badan Pemeriksaan Perbendaharaan Jemaat.
7.      Kantor dan Karyawan Kantor Majelis Jemaat
         Ditetapkan dan diatur dalam  Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat  GPIB Jemaat  “GETSEMANI”  BalikpapanNomor 8 Tahun 2012 tentang Kantor dan Karyawan Kantor Majelis Jemaat.
8.      Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat
         Ditetapkan dan diatur dalam Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat GPIB Jemaat GETSEMANI” Balikpapan  Nomor 9 Tahun 2012 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Jemaat.
9.      Pelayanan Kategorial
         Ditetapkan dan diatur dalam  Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat  GPIB Jemaat “GETSEMANI”  Balikpapan Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pelayanan Kategorial.
10.   Pelayanan Diakonia Sosial
         Ditetapkan dan diatur dalam Peraturan Pelaksana Majelis Jemaat GPIB JemaatGETSEMANI” Balikpapan  Nomor 11tahun 2012 tentang  Pelayanan Diakonia
11.   Koordinator Majelis Jemaat  di Sektor Pelayanan
         11.1    Untuk mengkoordinasikan kegiatan – kegiatan  dan tugas – tugas pelayanan di sektor pelayanan yang ada di jemaat, diperlukan seorang Koordinator dan  seorang Wakil Koordinator  Majelis Jemaat  di Sektor Pelayanan.
         11.2    Koordinator  dan Wakil Koordinator Majelis Jemaat di  Sektor Pelayanan dipilih secara musyawarah dan mufakat dari dan oleh Fungsionaris Majelis Jemaat di sektor pelayanan yang bersangkutan. Selanjutnya disampaikan kepada Pelaksana Harian Majelis Jemaat  untuk ditetapkan dalam Sidang Majelis.
         11.3    Masa tugas Koordinator dan Wakil Koordinator  Majelis Jemaat  sebagaimana dimaksud pada butir  11.1 dan 11.2   pasal ini,  mengikuti masa tugas Pelaksana Harian Majelis Jemaat dan dapat dipilih kembali.
         11.4    Koordinator dan Wakil Koordinator  Majelis Jemaat mengadakan konsultasi dengan Pelaksana Harian Majelis Jemaat terkait kegiatan pelayanan di sektor pelayanan  sekurang-kurangnya sekali dalam tiga bulan.
         11.5    Koordinator dan Wakil Koordinator  Majelis Jemaat membuat laporan kegiatan pelayanan secara berkala pada setiap 3 (tiga) bulan untuk disampaikan kepada Pelaksana Harian Majelis Jemaat.

Pasal   9
Tata Cara Penyelesaian Perselisihan

1.         Perselisihan Antar Warga Jemaat didasarkan pada Firman Tuhan dan Tata Gereja yang berlaku, dan diselesaikan dengan cara sebagai berikut :
1.1. Majelis Jemaat di sektor pelayanan bertanggung jawab membantu menyelesaikan masalah
yang dihadapi warga jemaat sepanjang masalah tersebut perlu dibantu penyelesaiannya.
1.2. Majelis Jemaat di sektor pelayanan membantu menyelesaikan dengan jalanmengadakan
Rapat Majelis Jemaat di sektor pelayanan yang bersangkutan.
1.3. Bila penyelesaian di atas tidak berhasil, Majelis Jemaat di sektor pelayanan
menyerahkannya kepada Pelaksana Harian Majelis Jemaat untuk menyelesaikannya. 
1.4.   Sementara diusahakan penyelesaiannya, pihak-pihak yang sedang berselisih harus
             menahan diri dan berdoa untuk penyelesaian persoalannya serta tidak
          memperkeruh persoalan.
1.5. Langkah penyelesaian oleh Pelaksana Harian Majelis Jemaat adalah sebagai berikut :
1.5.1      Pelaksana Harian Majelis Jemaat Pelaksana Harian Majelis Jemaat  membentuk Tim
                Penyelesaian dan mengadakan rapat di bawah  pimpinan salah seorang Ketua yang
                ditunjuk oleh Pelaksana Harian Majelis Jemaat.
1.5.2.     Tim Penyelesaian menyelidiki secara obyektif fakta-fakta yang berhubungan
                dengan permasalahan.
1.5.3.     Tim Penyelesaian memanggil pihak-pihak yang sedang berselisih secara terpisah
                atau secara bersama-sama untuk mendengarkan pernyataan/ kesaksian mereka
1.5.4.     Tim Penyelesaian melaporkan hasil kerjanya kepada Pelaksana Harian Majelis
                Jemaat. Jika Tim Penyelesaian tidak berhasil menyelesaikan perselisihan,
                Pelaksana Harian Majelis Jemaat meminta Sidang Majelis Jemaat untuk
                menyelesaikan masalah tersebut.
1.5.5.     Semua pihak  yang sedang berselisih harus taat kepada keputusan Sidang Majelis
                                   Jemaat berdasarkan tanggung jawab dan kewajiban selaku warga jemaat.
                1.5.6.    Persoalan yang bersifat pribadi diselesaikan secara tertutup dengan memegang
                                   teguh rahasia jabatan.

2.      Penyelesaian perselisihan antar warga jemaat  dengan Fungsionaris Majelis Jemaat didasarkan pada Firman Tuhan dan TataGereja yang berlaku, dan diselesaikan dengan cara sebagai berikut :
         2.1. Pendeta/Ketua Majelis Jemaat melakukan pendekatan terlebih dahulu kepada pihak-pihak
                   yang berselisih dan mengadakan percakapan penggembalaan.
         2.2. Bilamana usaha tersebut tidak berhasil, masing-masing pihak yang sedang berselisih
                   mengajukan mediator untuk penyelesaian perselisihannya.
         2.3.  Bilamana usaha tersebut tidak berhasil, maka Pendeta / Ketua Majelis Jemaat meminta
                   Sidang Majelis Jemaat untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.Sementara itu masing-masing pihak yang sedang berselisih wajib menahan diri danberdoa untuk penyelesaian perselisihan serta tidak memperkeruh perselisihan.
         2.4.  Apabila Sidang Majelis Jemaat tidak berhasil menyelesaikan perselisihan tersebut,Sidang
                   Majelis Jemaat menyerahkan perselisihan tersebut  kepada Majelis Sinode untuk
                   menyelesaikannya. Semua pihak hendaknya taat kepada keputusan MajelisSinode GPIB
                   dengan berlandaskan pada janji jabatan dan janji sidi.
         2.5.  Perselisihan yang bersifat pribadi diselesaikan secara tertutup dengan memegang
                   teguh rahasia jabatan.

3.   Perselisihan antar Fungsionaris  Majelis Jemaat  didasarkan pada Firman Tuhan dan TataGereja
      yang berlaku, dan diselesaikan dengan cara sebagai berikut :
3.1.     Pelaksana Harian Majelis Jemaat wajib mengusahakan penyelesaian perselisihan melalui
           Sidang Majelis Jemaat yang didahului dengan percakapan penggembalaanoleh
           Pendeta/Ketua Majelis Jemaat.
3.2.     Bilamana usaha tersebut tidak berhasil,  Sidang Majelis Jemaat membentuk Tim
           Penyelesaian yang dipimpin oleh Pendeta/Ketua Majelis Jemaat. Sementara penyelesaian
           perselisihan diusahakan, fungsionaris Majelis Jemaatyang sedang berselisih wajib menahan
           diri, berdoa, dan tidak memperluas ruang lingkup perselisihan.
3.4.        Tim Penyelesaian mengadakan rapat dibawah pimpinan Pendeta / Ketua Majelis Jemaat           dan menyelidiki secara objektif semua fakta yang berhubungan dengan perselisihan                 tersebut.Tim Penyelesaian dapat  mengundang pihak-pihakyang berselisih secara sendiri -         sendiri atau bersama-sama untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.
             Hasil kerjaTim Penyelesaian dilaporkan secara tertulis kepada Sidang Majelis Jemaat.
3.5.        Apabila Tim Penyelesaian tidak berhasil menyelesaikan perselisihan, Sidang Majelis Jemaat
             menyerahkan perselisihan tersebut kepada Majelis Sinode GPIB untuk menyelesaikannya.
             Semua pihak wajib taat kepada keputusan Majelis Sinode GPIBdengan berlandaskan pada       janji jabatan.

Pasal  10
Ketentuan Penutup

1.       Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat ini berlaku sejak tanggal disahkan oleh Majelis Sinode.
2.       Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat ini akan diatur dan ditetapkan dalam Sidang Majelis Jemaat.
3.       Dengan berlakunya Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat ini, maka Peraturan Pelaksanaan Majelis Jemaat sebelumnya tentang Jemaat dinyatakan tidak berlaku lagi.


                                                                                Ditetapkan di     :  Balikpapan
Pada tanggal      : 27 April 2012

MAJELIS JEMAAT GPIB JEMAAT GETSEMANI BALIKPAPAN
PELAKSANA HARIAN



Pdt. I. Nyoman Djepun, S.Th.                             Pnt. Nova Karyoto Pangau, SH.
                   Ketua                                                                               Sekretaris

Disahkan pada tanggal 08 Juli 2014

Oleh
MAJELIS SINODE
GEREJA PROTESTAN di INDONESIA bagian BARAT




Pdt. M. F. Manuhutu, M.Th.                                       Pdt. Adriaan Pitoy, M.Min.
        Ketua Umum                                                                   Sekretaris Umum



0 komentar:

VISI DAN MISI GPIB

VISI

GPIB menjadi gereja yang mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaanNya

MISI

  • Menjadi Gereja yang terus menerus diperbaharui dengan bertolak dari Firman Allah, yang terwujud dalam perilaku kehidupan warga gereja, baik dalam persekutuan, maupun dalam hidup bermasyarakat.
  • Menjadi gereja yang hadir sebagai contoh kehidupan, yang terwujud melalui inisiatif dan partisipasi dalam kesetiakawanan sosial serta kerukunan dalam masyarakat, dengan berbasis pada perilaku kehidupan keluarga yang kuat dan sejahtera.
  • Menjadi Gereja yang membangun keutuhan ciptaan yang terwujud melalui perhatian terhadap lingkungan hidup, semangat keesaan dan semangat persatuan dan kesatuan warga Gereja sebagai warga masyarakat.

MOTTO

Dan orang akan datang dari timur dan barat dan dari utara dan selatan dan mereka duduk makan di dalam Kerajaan Allah

Logo Pelkat

Rencana Kawasan GPIB Getsemani

Rencana Kawasan GPIB Getsemani
Untuk Perbesar Klik Gambar

Data Pembangunan

Data Pembangunan
Kegiatan Pemabngunan Getsemani